Pembahasan tentang moral memang tidak akan ada habisnya. Khususnya moral tunas bangsa, yaitu
pemuda Indonesia. Teori
moral menurut Rogers adalah aspek kepribadian yang diperlukan seseorang dalam
kaitannya dengan kehidupan sosial. Jadi, sebenarnya moral merupakan landasan
dan patokan bertindak bagi setiap orang dalam kehidupan sehari-hari di
lingkungan sosial. Selanjutnya, yang paling penting adalah moral yang terletak
pada batin dan akal setiap manusia, sebagai kontrol untuk menyeimbangkan
pikiran-pikiran negatif yang akan direalisasikan.
Moral
selalu mengacu pada baik buruknya prilaku manusia. Hal tersebut akan lebih
mudah kita pahami manakala mendengar orang mengatakan “perbuatannya tidak
bermoral”. Perkataan tersebut mengandung makna bahwa perbuatan tersebut
dipandang buruk karena melanggar nilai dan norma moral yang berlaku di
masyarakat.
Pada masanya, pemuda Indonesia pernah mengalami kebangkitan yang dibuktikan dengan
adanya Sumpah Pemuda. Melirik kebelakang, sejarah lahirnya Sumpah Pemuda tidak
terlepas dari semangat para pemuda bangsa kala itu, ketika pemuda bersatu padu
dengan maksud dan tujuan untuk mencapai kemerdekaan dari kolonial Belanda. “Memaknai
gerakan Sumpah Pemuda 1928?”, ini merupakan tema yang berulang ada setiap
tahunnya. Namun, setiap kali pula tema itu terasa relevan. Sejarah negeri ini memperlihatkan
bahwa komitmen ”satu tumpah darah, satu bangsa, dan satu bahasa” harus
terus-menerus dirawat dan dimaknai.
Perlu diingat bahwa baru satu dasawarsa yang lalu bangsa ini diguncangkan oleh konflik antar etnis dan antar agama, yang merebak dari ujung barat
ke timur Nusantara. Tragedi itu mampu menyadarkan jiwa, betapa fondasi persatuan kita
masih bisa di
goncangkan dan diprovokasi. Oleh karena itu, mari berkaca kembali pada
peristiwa 89 tahun yang lalu tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, yakni Sumpah
Pemuda. Kaum muda saat itu mampu berpikir melampaui zamannya, sekaligus mampu
mengatasi rintangan nyata pada masanya, yaitu sekat-sekat etnis dan bahasa
serta memperjuangkan keyakinan yang
satu atas bangsa Indonesia.
Sebenarnya, masa depan suatu bangsa terletak di tangan pemudanya.
Sebagaimana Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia, menyatakan
“Berikan aku 10 pemuda dan akan aku goncang dunia”. Demikian pula yang diungkapkan oleh Ben Anderson bahwa pemuda
merupakan sumber utama revolusi.
Sejarah Indonesia juga mencatat runtuhnya dua rezim karena gerakan pemuda.
Tritura yang lahir dari gerakan pemuda tahun 1966 berhasil menghapuskan
komunisme di tanah air.
Saat kolonialisme
tidak lagi pada masanya, pemuda harus tetap memainkan peran dalam perang teknologi dan ekonomi. Setelah 89 tahun sumpah
pemuda, sudah saatnya pemuda di era millenial ini
tidak hanya menjadi Agent of Change, tetapi Agent of Solution. Lalu,
bagaimanakah pemuda Indonesia saat ini? sungguh
sangat disayangkan pemuda Indonesia di era
modern ini
sangat jauh berbeda dengan yang lalu. Saat ini pemuda Indonesia berada di bawah
himpitan globalisasi, kapitalisme, liberalisme dan modernisasi. Lalu diikuti
dengan tuntutan perubahan life style serta begitu tingginya kebutuhan
akan lembaran-lembaran uang dan jiwa konsumtif.
Oleh karena itu, hal tersebut dapat memunculkan berbagai
tekanan hebat bagi tunas bangsa Indonesia dalam mempertahankan norma dan moral
yang sejak awal telah terinternalisasi dalam diri mereka. Lalu nantinya akan mendorong kaum pemuda melakukan
tindakan- tindakan yang menyimpang dari nilai luhur yang telah di tanamkan dari
awal.
Suatu paham pemuda era modern adalah permisifisme. Itu merupakan paham
serba boleh, paham ini merupakan
pangkal dari kerusakan moral tunas bangsa. Oleh karena itu, permisifisme
perlu diwaspadai dan ditangkal. Kehidupan yang individualis dan bebas tanpa
batas, menabrak norma-norma serta tidak
lagi memperhatikan benar atau salah telah
menimbulkan akumulasi kerusakan nyata.
Kejayaan suatu bangsa tidak datang
di awal perjuangan, namun membutuhkan proses yang panjang untuk mencapainya.
Dalam kaidah Ushul Fiqih di katakan almuhafadotu ‘alal qodimi ashulhu
wal akhdzu ‘alal jadidilashlahi yang berarti “Menjaga komitmen-komitmen
terdahulu yang sudah baik dan menggunakan gagasan-gagasan baru yang brilian”. Sejak zaman dahulu, pemuda merupakan pilar kebangkitan. Bangkitnya suatu
bangsa dimanapun tempatnya dan kapanpun waktunya tidak dapat terlepas dari
peran pemuda di dalamnya.
Kita ketahui bahwa pemuda adalah
harapan dan tumpuan yang menjadi pilar kebangkitan suatu bangsa. Dalam setiap
kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam sejarah berbagai
bangsa, tidak bisa dipungkiri bahwa pemuda adalah rahasia kebangkitan yang
mengibarkan panji-panji kemenangannya. Suatu saat bangsa Indonesia akan bangkit
dengan pemuda sebagai tonggak kebangkitan. Namun membutuhkan waktu yang tidak
sebentar. Pemuda harus siap untuk tempur
dalam menjawab tantangan-tantangan ideologi, eksploitasi kekayaan alam, invasi
ekonomi, politik dan kebudayaan.
Musuh bangsa Indonesia berusaha memadamkan lentera bangsa, menyembunyikan
kebenaran, menyesatkan para rakyatnya, melenyapkan kekuatannya dan melemahkan
semangat pemudanya serta menyelewengkan idiologinya dengan cara mengurangi,
menambahi, atau memberi interpretasi yang tidak semestinya. Situasi ini
masih berlanjut dengan tercabik-cabiknya
moral pemuda akibat terkontaminasi oleh budaya westernisasi.
Dimensi masa
membentang panjang, bagian dari spektrum kehidupan. Batas dunia memberi tanda, bahwa
insan semesta akan melalui masa yang tiada penghujungnya. Apabila seorang pemuda hanya
berpangku tangan saja, maka dunia akan tenggelam. Keadaan yang menghawatirkan
ini merupakan akibat langsung pemuda yang
meninggalkan moral dan rasa nasionalismenya. Mereka meracuni seluruh aspek kehidupan dengan pola pikir
Eropa, sebagai akibat dari pengaruh westernisasi, yang mengakibatkan
mereka lupa akan jati dirinya sebagai tunas bangsa.
Lomba Essay Nasional UIN syarif Hidayatullah Jakarta(6 besar)
Writer : Lu'lu Canteeekk
LOL ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar